Minggu, 14 Agustus 2011

PROPOSAL PKL "kultur fitoplankton Chlorella vulgaris di BBPBAP Jepara


  1. PENDAHULUAN
Sejalan dengan pesatnya usaha perikanan, dirasakan sangat besar peranan pakan bagi usaha budidaya ikan, khususnya pada usaha pembenihan ikan. Hal ini dapat dipahami karena jika di awal hidupnya tidak menemukan pakan yang ukurannya sesuai dengan bukaan mulutnya maka ikan tersebut diperkirakan tidak dapat meneruskan hidupnya. Ketersediaan pakan yang berkualitas baik dengan ukuran yang disesuaikan dengan bukaan mulut ikan sangat diperlukan agar angka mortalitas benih dapat ditekan serendah mungkin.
Pakan merupakan salah satu faktor pembatas bagi organisme yang dibudidayakan. Ketika dalam kondisi normal di alam, keanekaragaman pakan hidup (fitoplankton dan zooplankton) tersedia dalam jumlah yang cukup dan dapat dimanfaatkan dengan efisien. Setiap jenis ikan kebutuhan pakan akan tercukupi, karena ikan mempunyai daya jelajah pada spektrum yang relatif luas. Permasalahan akan kebutuhan pakan biasanya baru akan muncul ketika organisme berada dalam lingkungan budidaya.(Lamadi, 2009). Ketersedian pakan akan berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Jumlah pakan yang dibutuhkan oleh ikan setiap harinya berhubungan erat dengan ukuran berat dan umur ikan (Djarijah, 1995). Ketika ukuran dan umur ikan masih kecil, ikan membutuhkan banyak pasokan pakan yang cukup banyak dan harus disesuaikan dengan ukuran bukaan mulut ikan. Pakan yang cocok untuk ikan tersebut adalah pakan alami.
Ketersediaan pakan alami di suatu hatchery harus dalam jumlah yang memadai tepat waktu dan berkesinambungan. Plankton merupakan pakan alami yang baik bagi larva ikan ataupun udang pada fase awal pengenalan makanan. Salah satu jenis pakan alami yang sering dibudidayakan yaitu: Chlorella sp. Masalah klasik yang sering dihadapi oleh pembudidaya ikan atau udang adalah tingginya tingkat kematian larva. Larva udang atau ikan harus mendapatkan makanan dari luar, karena pada stadia ini kuning telur yang dibawa dari lahir habis, sehingga suplai pakan dari luar adalah faktor penting dalam usaha pemeliharaan larva udang selanjutnya. Hampir sebagian besar pembenihan yang ada di Indonesia melakukan kultur untuk penyediaan pakan alami dari jenis Chlorella sp. (Cahyo, 2011).
Chlorella merupakan tumbuhan bersel tunggal yang memiliki inti sejati, dan tergolong tumbuhan tingkat rendah. Chlorella juga disebut dengan alga hijau dan dapat hidup di perairan air tawar, dan perairan air laut. Perkembangbiakan Chlorella terjadi secara aseksual, yaitu dengan pembelahan sel atau bisa juga dengan mengeluarkan spora dari induknya. Chlorella sebagai pakan alami ikan ini juga memiliki beberapa keuntungan, seperti mudah dibudidayakan, ukuran yang relatif sesuai dengan ukuran bukaan mulut ikan, kemampuan berkembangbiak dengan cepat dalam waktu yang relatif singkat sehingga ketersediaannya dapat terjamin sepanjang waktu dan biaya yang relatif murah.(Siregar,2010).
Pakan alami terutama fitoplankton adalah jasad-jasad renik yang melayang dalam air tidak bergerak atau bergerak sedikit dan selalu mengikuti arus. Salah satu pengembangan budidaya pakan alami adalah fitoplankton dari jenis Chlorella. Jenis ini banyak digunakan dalam pembenihan organisme laut dihampir semua hatchery sebagai pakan yang langsung diberikan pada benih ikan atau udang.

Menurut Anonim, (2011) Klasifikasi Chlorella vulgaris adalah sebagai berikut:
Kerajaan : Plantae
Divisi : Chlorophyta
Kelas : Chlorophyceae
Ordo : Chlorococcales
Family : Oocystaceae
Genus : Chlorella
Spesies : Chlorella vulgaris
Chlorella sp. merupakan tumbuhan bersel tunggal yang memiliki inti sejati, dan tergolong tumbuhan tingkat rendah. Alga ini dapat hidup diperairan air tawar dan perairan air laut. Alga ini memiliki tubuh seperti bola, di dalam tubuhnya terdapat kloroplas berbentuk mangkuk. Perkembangbiakannya terjadi secara vegetative dengan membelah diri. Setiap selnya mampu membelah diri dan menghasilkan empat sel baru yang tidak mempunyai flagel. (Anonim, 2010).
Pertumbuhan fitoplangkton ditandai dengan bertambah besarnya ukuran sel atau bertambahnya jumlah sel. Chlorella merupakan salah satu jenis fitoplankton yang digunakan dalam pemeliharaan larva kerapu bebek sebagai peneduh atau penyangga kualitas air.(Anonim, 2011). Kehidupan Chlorella sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan dimana Chlorella tersebut berada. Faktor yang mempengaruhi kehidupan tersebut adalah unsur hara, cahaya matahari, suhu, pH, CO2, dan air. Unsur hara yang dibutuhkan oleh Chlorella berupa unsur hara makro dan unsur hara mikro. Unsur hara makro terdiri dari N, P, K,S, Na, Si, dan Ca, sedangkan unsur hara mikro terdiri dari Fe, Zn, Mn, Cu, Mg, Mo, Co, B dan lain-lain. Setiap unsur hara mempunyai fungsi khusus bagi Chlorella tanpa mengabaikan pengaruh faktor lain. Unsur N,P, dan S sangat penting dalam pembentukan dinding sel Chlorella. (Wirosaputro, 2002).
Cahaya matahari berperan penting untuk proses fotosintesis yang dibutuhkan oleh Chlorella. Chlorella banyak menyerap cahaya biru dan merah, keduanya bila bergabung menjadi sinar ultraviolet yang memiliki daya penyembuh dan daya pembersih. Suhu berperan di dalam memacu proses metabolisme dan untuk Indonesia suhu yang optimum berkisar 25-300 C bagi Chlorella. Peranan pH dalam budidaya sangat penting bila dikaitkan dengan kontaminan. kontaminan itu sangat merugikan maka pH dapat diatur guna mengatasinya, yaitu dengan mengatur pH menjadi asam tetapi Chlorella tidak terpengaruh olehnya, pH diusahakan menjadi 4,5-5,6. Ketika pH asam maka kontaminan tidak tahan hidup tetapi Chlorella tidak terpengaruh kehidupannya, sehingga pencegahan kontaminan dapat dikendalikan. (Wirosaputro, 2002).
Gas CO2 yang optimal sekitar 15% dan hal ini dapat diusahakan dengan cara meniup gas tersebut lewat pengaduk mekanis ke dalam media budidaya. Media air untuk keperluan budidaya harus terjamin baik tentang kuantitas maupun kualitasnya. Kualitas air sangat penting baik dari kandungan unsur hara maupun kebersihannya, lebih-lebih Chlorella tersebut untuk dimanfaatkan oleh manusia atau untuk pakan alami ikan. Menurut hasil penelitian Muhammad Zainuri et al. (2008), menyatakan bahwa Chlorella biasanya digunakan pula untuk pakan Cepepoda. Chlorella yang ukurannya kecil dan sifatnya cenderung pasif sehingga memberikan kesempatan Cepepoda untuk mengkonsumsinya. Air sebagai media budidaya tidak boleh tercemar termasuk mengandung logam berat yang berbahaya bagi tubuh manusia. Dalam memilih lokasi yang berkaitan dengan kebutuhan air harus dilakukan dengan cermat sehingga benar-benar bebas dari pencemaran. Syarat Chlorella sebagai pakan alami ikan adalah: memiliki bentuk dan ukuran yang sesuai dengan mulut ikan, mempunyai nilai gizi yang penting, isi sel padat dan dinding sel tipis, sehingga mudah diserap oleh tubuh ikan, cepat berkembangbiak dan memiliki toleransi yang cukup tinggi terhadap perubahan lingkungan, tidak mengeluarkan zat toksik, tidak bergerak aktif sehingga mudah ditangkap. (Wirosaputro, 2002).
Menurut Cahyo (2011), kepadatan sel digunakan secara luas untuk mengetahui pertumbuhan fitoplankton melalui beberapa fase diantaranya sebagai berikut :
  1. Fase Induksi (Istirahat)
Fase induksi disebut juga sebagai fase istirahat, dimana pada fase ini inokulum yang dimasukkan melakukan metabolism namun belum terjadi pertambahan sel sehingga kepadatannya belum meningkat. Fase ini fitoplankton aktif melakukan sintesa protein dan mulai menyerap nutrient yang terdapat pada media kultur.
  1. Fase Eksponensial
Fase eksponensial merupakan fase dimana fitoplankton memiliki laju pertumbuhan tetap. Fase ini sel bereproduksi secara cepat, dengan pertumbuhan populasi mencapai maksimal.
  1. Fase Stasioner
Fase ini merupakan fase dimana pertumbuhan mulai mengalami penurunan dibandingkan dengan fase eksponensial. Pada fase ini laju reproduksi seimbang dengan laju kematian, dengan demikian laju pertumbuhan fitoplankton tetap.


  1. Fase Kematian
Pada fase ini laju kematian lebih cepat dari pada laju produksi, sehingga jumlah sel menurun. Penurunan kepadatan fitoplankton ditandai dengan perubahan kondisi optimum yang dipengaruhi oleh temperatur, cahaya, pH, jumlah nutrien yang ada dan lain-lain.
Mikroalga Chlorella memiliki potensi sebagai pakan alami, pakan ternak, suplemen, penghasil komponen bioaktif bahan farmasi dan kedokteran. Hal tersebut disebabkan Chlorella banyak mengandung berbagai nutrient seperti protein, karbohidrat, asam lemak tak jenuh, vitamin, klorofil, enzim, dll. Selain itu Chlorella merupakan mikroalga yang sebagian besar hidup dilingkungan akuatik, baik perairan tawar, air laut maupun air payau. (Prihantini et al., 2005).
Alga maupun zooplankton merupakan sumber karbohidrat, lemak, vitamin, dan protein dengan susunan asam amino yang lengkap sebagai pakan larva ikan. Alga yang sering dibudidayakan untuk pakan alami antara lain klorela . Chlorella adalah salah satu alga hijau bersel tunggal. Selnya berdiri sendiri dengan bentuk bulat atau bulat telur dengan diameter 3-8 mikron, mempunyai kloroplas berbnetuk seperti cawan dan dindingnya keras. Warnanya yang hijau cerah, hidupnya di air tawar, tetapi juga ada yang berada di perairan laut. Perkembangbiakan Chlorella terjadi secara seksual, yaitu dengan pembelahan sel atau bisa juga dengan mengeluarkan beberapa spora dari sel induknya.
Pakan alami akan tumbuh subur pada perairan yang banyak mengandung bahan-bahan organik dan anorganik serta menerima sinar matahari secara langsung. Pakan alami bisa pula ditumbuhkan dalam tempat yang sempit, tertutup dan dalam media yang terbatas asalkan memenuhi persyaratan tumbuh, seperti temperatur, salinitas, pH dan intensitas cahaya matahari. Meskipun dalam proses fotosintesis fitoplankton memproduksi O2 lebih banyak dari pada yang digunakannya namun fitoplankton juga memerlukan O2 untuk hidup. Selain O2 ketersediaan CO2 juga merupakan suatu hal yang sangat penting dalam fotosintesis. Unsur yang diperlukan fitoplankton dalam jumlah besar disebut makronutrien seperti nitrogen, fosfor, besi, sulfur, magnesium, kalium, magnesium, dan kalsium. Unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil disebut mikronutrien seperti tembaga, mangan, seng, boron, molybdenium dan cobalt. (Cahyo, 2011).
Praktek Kerja Lapangan itu sendiri bertujuan untuk mengetahui tingkat petumbuhan kepadatan sel Chlorella dalam salinitas yang berbeda untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Praktek kerja lapangan ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai cara mengkulturkan fitoplankton Chlorella sp. yang ada di BBPBAP Jepara. Selain itu, hasil PKL nanti diharapkan mampu menambah keterampilan dan pengetahuan penulis mengenai cara kultur fitoplankton Chlorella sp.







  1. METODE PRAKTEK KERJA LAPANGAN
    1. Materi dan Waktu Praktek Kerja Lapangan
  1. Bahan dan Peralatan
Bahan yang digunakan dalam praktek kerja lapangan ini adalah bibit Chlorella 86 ml, media air dengan salinitas 30 ppt, 20 ppt, 10 ppt, 5 ppt, 0 ppt, aquades, pupuk walne teknis 2 ml. Alat yang digunakan antara lain toples 5 buah, mikroskop, kertas pH, refraktometer, pipet, selang aerasi, haemocytometer, aerator, tissue, gelas ukur.
  1. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan
Praktek Kerja Lapangan dilakukan di laboratorium Pakan Alami BBPBAP Jepara, Jawa Tengah dan dilaksanakan dari 18 April 2011-18 Mei 2011.
    1. Metode Praktek Kerja Lapangan
Metode yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapangan adalah dengan pengamatan kepadatan sel di bawah mikroskop.
    1. Cara Kerja
  1. Cara Kerja Persiapan wadah
Dalam pemeliharaan kultur diperlukan beberapa peralatan seperti toples, selang, aerasi, pipet, gelas ukur yang sudah dicuci bersih.
  1. Persiapan media atau air dan aerasi
Dalam pemeliharaan kultur harus dipersiapkan media air dan aerasi. Air sebelum digunakan sebaiknya ditentukan salinitasnya terlebih dahulu, kemudian air kita chlorine dengan 30 ppm, dan diendapkan 24 jam. Kemudian setelah kita endapkan kita cek airnya menggunakan chlorine test. Apabila masih berwarna orange atau ungu berarti masih terkandung chlorine, untuk menetralkan airnya kita gunakan Na biosulfat dengan 15 ppm. Persiapan aerasi digunakan untuk mensuplai ketersediaan oksigen.
  1. Pemupukan
Dalam pemeliharaan kultur Chlorella diberikkan pupuk walne teknis 1 ml/l. tujuannya untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi bagi pertumbuhannya. Pupuk teknis ini meliputi NPK. UREA, EDTA. TSP, FeCl3.
  1. Penebaran bibit
Dalam penebaran bibit biasanya 25-30 % dari volume kultur.
  1. Pengamatan pertumbuhan
Dalam pengamatan pertumbuhan sel Chlorella dapat dihitung dengan menghitung kepadatannya setiap hari. Biasanya dilakukan minimal 3 kali pengulangan.
  1. Panen
Dalam pemanenan fitoplankton Chlorella biasanya sebelum pemanenan diberikan NaOH 1-2 ml/l. Tujuannya untuk mempercepat proses pengendapan untuk skala massal. Namun dalam skala laboratorium langsung diberikan kepada zooplankton yang ada di laboratorium.




    1. Analisis Data
Analisis dilakukan dengan cara menghitung kepadatan sel Chlorella / ml dengan menggunkan rumus :
Kepadatan : ∑ sel x 104 x P
∑ ulangan

Keterangan :
sel = Jumlah sel/ml
P = Pengenceran
ulangan = Jumlah ulangan pengamatan
Menghitung salinitas yang diinginkan :
V1 x N1 = V2 x N2
Keterangan :
V1 = Volume air laut
N1 = Salinitas air laut
V2 = Volume air tawar
N2 = Salinitas yang diinginkan
Menghitung salinitas dengan menggunkan pengenceran :
Keterangan ;
V1 = Volume air yang dicari
V2 = Volume air yang diinginkan
N1 = Salinitas air tawar
N2 = Salinitas yang diinginkan


    1. Jadwal Kegiatan
Jadwal praktek kerja lapangan “Kultur Fitoplankton Chlorella vulgaris di BBPBAP Jepara. Dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1. Jadwal Rencana Kerja Praktek Lapangan yang akan dilakukan :

No

Kegiatan
Bulan ke

1
2
3
4
1
Persiapan
  1. Pengurus surat ijin
  2. Penyusunan proposal

X



X




2
Pelaksanaan PKL


X




3
Pengumpulan data


X
X
X
4
Penyusunan laporan


X
X










DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010. Chlorella. http://Www.Wikipedia.com. Diakses 10 Maret 2011.

---------. 2011. Fitoplankton Alternatif Cocolite sp., Pacu Produksi Benih Kerapu Bebek. http://Www.google.com. Diakses 10 Maret 2011.

Cahyo A. D. 2011. Teknik Kultur Skeletonema costatum Sebagai Pakan Alami Udang Vaname. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara Jawa Tengah. Usulan PKL (tidak dipublikasikan). Fakultas Perikanan dan Kelautan Unair. Surabaya.

Djarijah A.B. 1995. Pakan Alami Ikan. Penerbit Kanisius.Yogyakarta.

Lamadi. 2009. Skeletonems Costatum. http://Www.google.com. Diakses 24 November 2011.

Prihantini N H, Putri B, & Yuliati R. 2005. Pertumbuhan Chlorella Spp. Dalam Medium Ekstrak Tauge (MET) Dengan Variasi pH Awal. Makara, Sains. Vol. 9(1) : 1-6.

Siregar A., 2010. Transparasi Teknik Pendugaan Produktifitas Perairan. Fakultas Biologi. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.

Wirosaputro, S. 2002. Chlorella Untuk Kesehatan Global Teknik Budidaya Dan Pengolahan Buku II. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Zainuri M, Endrawati H, Kusdiyantiini E & Kusmaningrum P.H. 2008. Konsumsi Harian Cepepoda Terhadap Pakan Chlorella Sp. Pada Volume Media Kultivasi Yang Berbeda. Ilmu Kelautan UNDIP. 13 (3): 121-126.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar